Konsep Diri Suku Bugis
Siri’ na passѐ
Indonesia memiliki bermacam-macam
suku bangsa. Dengan sekitar tiga ribu pulau yang tersebar bukan hal mustahil
Indonesia memiliki berbagai macam suku yang tersebar di Negara ini. Suku bangsa
yang beragam itulah yang akhirnya menciptakan berbagai macam konsep diri. Seperti
sebuah suku yang terdapat di dareah Sulawesi Selatan. Suku yang dikenal dengan
sebutan bugis merupakan salah satu suku terbesar di daerah Tengah dan Timur
Indonesia.
Suku yang bermayoritas muslim ini memiliki
adat istiadat yang sangat kuat. Walaupun Indonesia sedang mengalami masa
perubahan akibat dari dampak globalisasi, Bugis dengan segala keteguhannya
tetap bertahan dan tidak goyah.
Siri’ na passѐ
yang berarti malu dan empati. Konsep malu ini yang berarti harga diri dan
empati ini bukan hanya dianut dan sipegang kuat oleh suku bugis, namun
masyarakat Sulawesi secara umum masih memegang konsep diri ini.
Keseluruhan dari sistem dan norma
serta aturan adat istiadat ini dirangkum dalam sebuah istilah yang disebut Pangngadereng yang terdiri dari ade’, bicara, rapang, wari, dan sara’. Kelima unsur tersebut salin
terjalin satu sama lain dan tertanam dalam setiad diri masyarakat bugis
sehingga masyarakat dapat menjunjung siri’
atau harga diri. Sara’ sendiri
diambil dari agama Islam yang berarti syari’at islam.
Sebagai seorang manusia, sudah suatu
tuntutan hati nurani bagi mereka untuk tetap mengangkat tinggi harga diri.
Menurut salah satu pemuka adat, siri’ atau
harga diri yang ingin dijunjung tinggi inilah yang menyebabkan seluruh
masyarakat bugis masih memegang teguh kelima unsur norma Pangngadereng.
Siri’ yang secara umum berarti harga
diri sangat berarti dalam diri mereka. Siri’ memiliki tingkat hierarki yang
sama dengan martabat, kehormatan dan reputasi. Artinya, tanpa siri’ sama saja
seorang bugis tidak memiliki harga diri. Siri’ yang juga berarti malu
mengajarkan setiap diri seorang bugis tentang apa arti sesungguhnya sebuah
kehidupan. Bahkan, saking pentingnya Siri’ dimata mereka, mereka beranggapan
tujuan utama mereka hidup didunia ini adalah untuk menegakkan siri’ dimuka
bumi.
Sesuai dengan konsep yang telah
dibahas, selain siri’, bugis memiliki konsep penting lain sebagai konsep diri
yaitu passѐ. Passѐ sendiri
merupakan sebuah unsur pendukung dari siri’ untuk menumbuhkan rasa kesetia
kawanan antar masyarakat bugis. Passѐ adalah
sebuah perasaan untuk ikut menanggung perasaan anggota kelompoknya dan
mendukung apabila seseorang dipermalukan. Ini merupakan suatu saran pemulihan harga
diri dari seseorang yang telah dibuat malu.
Siri’ na passѐ telah
merambah dan tertanam dalam kehidupan masyarakat bugis. Situasi siri’ akan
muncul ketika seseorang mengalami ri’
paksssiri’ yang berarti dibuat malu.
Pada situasi inilah passѐ sangat
dibutuhkan untuk memulihkan siri’.
Seseorang yang mengalami ri’ pakassiri’ namun tidak bisa
memulihkan rasa malu dan harga dirinya, mereka akan dikucilkan dan dianggap
hina oleh masyarakat. Mereka menganggap lebih baik membuang diri daripada
dikucilkan masyarakat. Hal ini merupakan salah satu faktor mengapa suku bugis
banyak yang pergi merantau keluar dari daerah mereka.
Dalam hal perkawinan, ketika
seseorang melakukan sebuah pelamaran dan tidak diterima atau dalam artian
ditolak, maka mereka akan mengalami mate
siri’ yang berarti kehilangan kehormatan. Kebanyakan dari pasangan nekat
akan melakukan siliriang yaitu kawin
lari. Ini merupakan hal yang sangat melanggar sehingga terkadang pihak wanita
akan membunuh untuk menegakkan siri’ kelurga tersebut.
Orang yang membunuh itulah merupakan
sebuah penyebab seorang yang ri’ pakassiri’ mengalami jallo’ atau mengamuk. Hal paling menyeramkan dari jallo’ adalah
ketika seseorang membunuh karena ingin menghilangkan orang yang membuatnya ri’
pakassiri’. Namun, semenjak adanya sara’ atau
syari’at islam, bunuh membunuh tidak lagi terjadi, sehingga mereka menebusnya
dengan hukuman-hukuman lainnya yang sesuai dengan ajaran islam.
Seseorang yang telah kehilangan siri’
atau malu disebut dengan mate na siri’ e.
yaitu seseorang yang telah kehilangan malu dan tidak lagi menjunjung adat
istiadat. Orang yang seperti ini tidak lagi menjunjung Pangngadereng.
Dari semua penjelasan di atas, telah diketahui
bahwa konsep diri masyarakat bugis adalah Siri’
na passѐ. Kedua konsep inilah yang membuat setiap masyarakat dapat saling
rukun berbaur dengan adat istiadat mereka masing-masing. Kedua konsep inilah
yang membuat setiap martabat suku bugis tetap dijunjung tinggi. Dengan
kepribadian suku bugis yang keras dan tempramen, kedua konsep inilah yang tetap
mengukuhkan suku dan adat istiadat mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar