Sabtu, 05 Juli 2014

Ilmu Budaya Dasar - Konsep Diri



Konsep Diri Suku Bugis

Siri’ na passѐ

Indonesia memiliki bermacam-macam suku bangsa. Dengan sekitar tiga ribu pulau yang tersebar bukan hal mustahil Indonesia memiliki berbagai macam suku yang tersebar di Negara ini. Suku bangsa yang beragam itulah yang akhirnya menciptakan berbagai macam konsep diri. Seperti sebuah suku yang terdapat di dareah Sulawesi Selatan. Suku yang dikenal dengan sebutan bugis merupakan salah satu suku terbesar di daerah Tengah dan Timur Indonesia.
Suku yang bermayoritas muslim ini memiliki adat istiadat yang sangat kuat. Walaupun Indonesia sedang mengalami masa perubahan akibat dari dampak globalisasi, Bugis dengan segala keteguhannya tetap bertahan dan tidak goyah.
Siri’ na passѐ yang berarti malu dan empati. Konsep malu ini yang berarti harga diri dan empati ini bukan hanya dianut dan sipegang kuat oleh suku bugis, namun masyarakat Sulawesi secara umum masih memegang konsep diri ini.
Keseluruhan dari sistem dan norma serta aturan adat istiadat ini dirangkum dalam sebuah istilah yang disebut Pangngadereng yang terdiri dari ade’, bicara, rapang, wari, dan sara’. Kelima unsur tersebut salin terjalin satu sama lain dan tertanam dalam setiad diri masyarakat bugis sehingga masyarakat dapat menjunjung siri’ atau harga diri. Sara’ sendiri diambil dari agama Islam yang berarti syari’at islam.
Sebagai seorang manusia, sudah suatu tuntutan hati nurani bagi mereka untuk tetap mengangkat tinggi harga diri. Menurut salah satu pemuka adat, siri’ atau harga diri yang ingin dijunjung tinggi inilah yang menyebabkan seluruh masyarakat bugis masih memegang teguh kelima unsur norma Pangngadereng.
Siri’ yang secara umum berarti harga diri sangat berarti dalam diri mereka. Siri’ memiliki tingkat hierarki yang sama dengan martabat, kehormatan dan reputasi. Artinya, tanpa siri’ sama saja seorang bugis tidak memiliki harga diri. Siri’ yang juga berarti malu mengajarkan setiap diri seorang bugis tentang apa arti sesungguhnya sebuah kehidupan. Bahkan, saking pentingnya Siri’ dimata mereka, mereka beranggapan tujuan utama mereka hidup didunia ini adalah untuk menegakkan siri’ dimuka bumi.
Sesuai dengan konsep yang telah dibahas, selain siri’, bugis memiliki konsep penting lain sebagai konsep diri yaitu  passѐ. Passѐ sendiri merupakan sebuah unsur pendukung dari siri’ untuk menumbuhkan rasa kesetia kawanan antar masyarakat bugis. Passѐ adalah sebuah perasaan untuk ikut menanggung perasaan anggota kelompoknya dan mendukung apabila seseorang dipermalukan. Ini merupakan suatu saran pemulihan harga diri dari seseorang yang telah dibuat malu.
Siri’ na passѐ telah merambah dan tertanam dalam kehidupan masyarakat bugis. Situasi siri’ akan muncul ketika seseorang mengalami ri’ paksssiri’  yang berarti dibuat malu. Pada situasi inilah passѐ sangat dibutuhkan untuk memulihkan siri’.
Seseorang yang mengalami ri’ pakassiri’ namun tidak bisa memulihkan rasa malu dan harga dirinya, mereka akan dikucilkan dan dianggap hina oleh masyarakat. Mereka menganggap lebih baik membuang diri daripada dikucilkan masyarakat. Hal ini merupakan salah satu faktor mengapa suku bugis banyak yang pergi merantau keluar dari daerah mereka.
Dalam hal perkawinan, ketika seseorang melakukan sebuah pelamaran dan tidak diterima atau dalam artian ditolak, maka mereka akan mengalami mate siri’ yang berarti kehilangan kehormatan. Kebanyakan dari pasangan nekat akan melakukan siliriang yaitu kawin lari. Ini merupakan hal yang sangat melanggar sehingga terkadang pihak wanita akan membunuh untuk menegakkan siri’ kelurga tersebut.
Orang yang membunuh itulah merupakan sebuah penyebab seorang yang ri’ pakassiri’ mengalami jallo’ atau mengamuk. Hal paling menyeramkan dari jallo’ adalah ketika seseorang membunuh karena ingin menghilangkan orang yang membuatnya ri’ pakassiri’. Namun, semenjak adanya sara’ atau syari’at islam, bunuh membunuh tidak lagi terjadi, sehingga mereka menebusnya dengan hukuman-hukuman lainnya yang sesuai dengan ajaran islam.
Seseorang yang telah kehilangan siri’ atau malu disebut dengan mate na siri’ e. yaitu seseorang yang telah kehilangan malu dan tidak lagi menjunjung adat istiadat. Orang yang seperti ini tidak lagi menjunjung Pangngadereng.
 Dari semua penjelasan di atas, telah diketahui bahwa konsep diri masyarakat bugis adalah Siri’ na passѐ. Kedua konsep inilah yang membuat setiap masyarakat dapat saling rukun berbaur dengan adat istiadat mereka masing-masing. Kedua konsep inilah yang membuat setiap martabat suku bugis tetap dijunjung tinggi. Dengan kepribadian suku bugis yang keras dan tempramen, kedua konsep inilah yang tetap mengukuhkan suku dan adat istiadat mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Zayn Malik